Kursus Teknisi Komputer

Sabtu, 22 Januari 2011
Anda adalah orang awan yang ingin berbisnis di bidang Service dan Jual Beli Komputer? Atau anda adalah mahasiswa atau Sarjana IT yang membutuhkan pengetahuan lebih tentang Komputer Hardware dan Software? Disini kami mengadakan Pelatihan/Kursus Teknisi Komputer yang akan membuat anda siap menjadi Teknisi-teknisi handal yang bisa menjadi bekal bagi anda yang bekerja pada bidang Komputer atau IT.

Dengan pengalaman lebih dari 14 tahun, rasanya cukup bagi saya untuk membagi pengalaman dan keahlian saya kepada anda. Selain pernah menulis buku tentang komputer, tulisan-tulisan saya banyak di muat atau di copy pada situs-situs tentang ilmu komputer atau IT.

Peserta Mendapatkan 1 Unit Komputer

Kursus kami bagi dalam 3 paket yang bisa anda ambil per paket maupun seluruh paket. Setiap peserta yang mendaftar akan mendapatkan 1 Unit komputer Pentium 4 yang akan di jadikan modal praktek dan akan di bawa pulang saat pelatihan/Kursus selesai. Spesifikasi Komputer yang akan di dapatkan peserta adalah sbb:

Pentium 4
Motherboard + Processor 1,8
Harddisk 40 GB
Ram 512 MB DDR1
CDRom
Keyboard+Mouse
Monitor 15" Digital

Kursus dilakukan selama 1 bulan dengan pertemuan 2 kali setiap minggu selama 3 jam setiap pertemuan. Biaya setiap Paket adalah Rp. 1.650.000,-

Paket-paket Kursus adalah sbb:

1. Paket Pemula

Materi Kursus :
- Pengenalan Hardware
- Merakit Komputer
- Instalasi Windows dasar
- Instalasi Windows lanjutan


2. Paket Lanjutan

Materi Kursus
- Instalasi Windows Driver dan Software Khusus (Tingkat Lanjut)
- Trouble Shooting + Service Komputer Mati Total
- Trouble Shooting + Service Komputer Hang
- Trouble Shooting + Service Hardware yang Eror


Kursus ini berlaku untuk Umum, Mahasiswa IT yang ingin belajar dan Anda yang ingin membuka Usaha di Bidang Komputer.

Pasca Kursus

Selesai menjalani kursus, anda akan terus kami bimbing dengan memberikan konsultasi gratis lewat telepon bila anda mengalami kesulitan.

Selain itu, peserta yang ingin di salurkan bekerja pada beberapa Showroom komputer akan kami usahakan.

Ada pula magang ditempat kami atau bekerja sebagai teknisi maupun pengajar dengan gaji yang cukup.

Peserta yang tidak mampu tetapi memiliki minat besar silakan menghubungi kami untuk mendapatkan keringanan biaya kursus..

Segera hubungi kami ke arctekvision@arctek-vision.com atau isi formulir di bawah berikut no email anda sebagai tambahan. Pendaftaran ditutup tanggal 30 April 2011

Silakan isi formulir pendaftaran di bawah ini:

»»  Lanjutannya nih...

Kursus Pengolahan Limbah Komputer dan Elektronik Menjadi Emas

Belum banyak yang tahu bahwa dalam limbah komputer dan elektronik terdapat banyak unsur logam yang berharga. Logam-logam tersebut adalah Tembaga, Aluminium, Besi, Perak bahkan emas.

Bila anda tertarik untuk usaha di bidang ini, kami menawarkan beberapa paket kursus pengolahan limbah elektronik yang dikemas dalam beberapa paket, yaitu:

Paket A

Sistem pengolahan Emas dari bahan ex. processor, conector (micron)

Biaya pelatihan : Rp. 1.250.000,-

Paket B

Sistem pengolahan Emas dari bahan IC dan Transistor

Biaya Pelatihan : Rp. 1.250.000,-

Paket C

Sistem pengolahan Perak dari semua unsur bahan

Biaya Pelatihan : Rp. 650.000,-

Bila anda berminat, silakan hubungi saya ke email : teknisi.komputer71(at)gmail.com.


»»  Lanjutannya nih...

Menculik Maysaroh 4 : Hari yang Mengharu Biru

Senin, 11 Oktober 2010
Dico mengeliat.

"Pa... bangun pa." Istrinya membangunkannya dengan lembut. Diusapnya kepala Dico.
"Pa... bangun... udah siang."

Dico kembali menggeliat.

"Ahh!!" Dico menepis tangan bininya yang masih berada di atas dahinya.

Istrinya cuma tersenyum. Lalu beranjak keluar tempat tidur.

Dico tersentak! Dico terkejut sekali pagi ini. Dico marah, di kejar istrinya yang ternyata sedang menuju ruangan makan.

"Ma!!!" Dico memanggil bininya dengan suara keras, "Mana tendangannya? Mana guyuran airnya? Kok mama begitu sih?" Dico kesal bin bingung. Selama ini ternyata Dico biasa dibangunkan istrinya dengan hardikan, tendangan bila tidak juga bangun, bahkan diguyur! Dan hari ini, Dico mendapat perlakuan yang berbeda! Tentu saja Dico bingung!

Istri Dico menghampirinya. Dico sudah siap-siap dengan jurus seribu Kelabang untuk menangkis segala serangan bininya. Memang udah tabiat yang Dico hapal, bila ia menghardik bininya maka ia akan mendapat balasan yang setimpal. Jeweran atau lemparan sendal! Dan Dico sudah hapal pula bagaimana seharusnya ia mengelak. Menangkis atau lari tunggang langgang!

"Pa, mama udah siapin nasi goreng kesukaan papa. Makan dulu ya?" Istrinya Dico menggandengan tangan Dico sambil menunjuk makanan yang sudah siap di meja. Wah... wah, Dico tambah bengong terhadap sikap aneh bin ajaib bininya pagi ini! Biasanya, pagi-pagi Dico minta kopi aja udah di lempar toples kosong sambil nyerocos, "Makan nih toples! Duit dari mana? Nggak gablek ngasih duit aja mau minta macem-macem!

Dico makan sambil bengong. Sesekali dia liat ke arah bininya. Bininya tersenyum, persis seperti senyuman Sule.

Dia liat lagi...

Istrinya senyum lagi...

Liat lagi...

Senyum lagi...

Liat lagi...

Senyum lagi...

Ada sekitar 136 kali Dico dan bininya liat-liatan dan senyum-senyuman. Manusia Aneh!

Sampai lewat anaknya, Dico dan bininya berenti sejenak untuk denger siaran iklan.

"Pa, kok di tas papa ada jas? Papa mau kawin lagi ya?"

Glek, Dico tersedak. Hampir-hampir, sendok yang lagi dimasukin ke mulutnya itu ketelen! Bininya juga bengong, melotot ke arah Dico seperti minta penjelasan.

Dico tentu aja langsung ngeles!

"Oh, itu punya Anton... minta tolong masukin ke londri untuk di cuci. Kemaren kan dia abis kondangan adeknya!" Dico menyiapkan jurus kalo aja bininya gak percaya. Dia liat ke arah bininya.

Bininya senyum lagi. "Oh, gitu ya pa? Biarin nanti mama yang bawa ke laundry."

Dico lega sambil mengusap keringat dingin di dahinya. Sementara bininya menghampiri anaknya lalu memukul, nendang, tempeleng kanan kiri, lipat, terus digelindingin... "dasar anak sialan! Ngomong sembarangan aja luh!"

Diam-diam, Dico sendiri tersentak hatinya. Bila anaknya ngomong aja bininya udah marah, gimana kalo tau beneran? Disisi lain, Dico juga merasa bersalah. Apalagi dengan perlakuan aneh bininya pagi ini. Dico benar-benar merasa bersalah kepada anak dan istrinya.

Sehabis puas dengan anaknya, istri Dico kembali ke meja makan.

Dico meliat kearah istrinya. Istrinya tersenyum...

Liat lagi...

Senyum lagi ...

Liat lagi...

Senyum lagi...

Kali ini ada sekitar 1258 kali mereka melakukan itu!

***

Dico siap berangkat dengan motor bututnya. Perlakuan aneh bini berlanjut dengan mempersiapkan peralatan service Dico ke dalam tas dan memakaikan tas ke tangan Dico yang udah siap di atas motor! Dico masih bengong dibuatnya.

Dico ingat masa-masa awal pernikahan mereka. Bininya sibuk menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan tas kerja lalu memberikan kecupan hangat di pipi sambil berucap "hati-hati ya pa?". Dico mulai merasakan kesedihan dan kepedihan. Dico, merasa menyesal sekali telah berkhianat pada bininya yang setia selama puluhan tahun mendampinginya. Sekalipun kasar, istrinya ternyata tetap ada di sampingnya sekalipun ia hanya menyetor duit pas-pasan dan kurang-kurangan! Hingga kini, hingga 5 buntut telah dihasilkan ia dan istrinya.

"Papa berangkat dulu ya ma?" Dico menatap istrinya tajam. Cukup lama Dico menatap istrinya dan istrinya menatap dia. Bila dalam sinetron, maka ada jeda saat Dico di close up, lalu kamera mengarah ke istrinya. Dico berdoa dalam hatinya, "Tuhan... jangan biarkan ia mencium pipiku, please..."

Lalu istrinya mendekat, mencium pipi Dico sambil berucap, "hati-hati ya pa?"

Dico berangkat di iringi tatapan istrinya yang terus menatap hingga kepergian suaminya tanpa tahu; Dico telah berangkat dengan air mata yang berurai deras dipipinya!

Istrinya memang tidak akan pernah tahu...

(Mau tahu? Tendang dong sponsornya Dico...)
»»  Lanjutannya nih...

Utang

Gw lagi di rumah Pak Adi sedang nunggu kostumer yang bakal beli CPU Pentium 4 ketika Heru dateng dengan keluh kesahnya...

"Payah Pe, si Anto dari kemaren utang ama gw belom bayar-bayar... padahal gw butuh duit! lagi juga, gw belom nyetor ke orang yang gw ambil barangnya... huft!"

"Ntar ngkali... baru kemaren, sabar dikit napa?"

"Bukan gitu, gw takut aje tuh si Anto gak bayar! Namanya duit kalo udah di tangan kan orang suka lupa diri"

"Iye sih... (gw sambil senyum sepet, karena gw juga sering ngutang... hiks)"

Masalah utang, kaya pengusaha miskin seperti gw jadi hal biasa. Iyalah, gimana bisa gak punya duit bisa jual komputer? Beli aja nggak bisa, apalagi jual! Nah, utang adalah sebuah solusi untuk itu. Seperti CPU yang gw mau jual ke costumer yang janjian di rumah pak Adi ini nih... gw utang... (ssst... jangan bilang sapa-sapa).

Heru tetap dengan kelesuannya mikirin duit dia di Anto. Terus dia pergi, niatnya mau ke rumah Anto untuk nagih duit. Bodo ah, yang penting gw agak lega ketika orang yang gw tunggu dateng. Singkat cerita, CPU yang terbungkus rapi kertas koran gw buka dan test di tempat pak Adi komputer gw siap di bayar! Lumayan, hasil utang CPU gw di bayar 800rebu.

Baru terima duit, Bagol dateng dengan langkah tergesa-gesa menuju gw. Sedang gw, rasanya mau tergesa-gesa menghindar. Seandainya kerah baju gw nggak ditahan ama Bagol... gw bakalan kaburrr...

"Lo cepet banget sih Gol! Baru juga terima duit..." Gw ngeluh.

"Setoran... CPU nya udah laku, kan?"

Dengan terpaksa gw serahkan duit sebesar 750rebu utang gw ke Bagol. Pak Adi cuma nyengir ngeliat kita berdua. Terus sibuk lagi dengan peralatan servisnya.

"Nah, ini baru mantaf... gw kan jadi bisa ngerokok!" Bagol dengan senyum sumringah (hufh... rasanya pengen gw tabokin aja).

Belom lagi Bagol berangkat ke warung beli rokok, bos Uwong dateng. Bagol keliatan salting...

"Yah, apek banget... baru pegang duit!" Bagol meringis sambil nyerahin duit 725 ke Bos Uwong yang baru dateng udah nadahin tangan...

Lah... ternyata Bagol utang juga CPU ntu ke Bos Uwong! Sialan... Sementara Pak Adi senyam senyum lagi liat ulah kita-kita...

Bos Uwong, dengan gaya cool langsung duduk di bangku panjang pak Adi sambil ngitung duit setoran Bagol (takut kurang bro...). Tapi jadi nggak cool ketika seseorang nelpon...

"Iya, iya... gw ada di rumah Pak Adi. Lo kesini aja!" Bos Uwong rada gemeteran terima telepon.

Lagi ngobrol-ngobrol, orang yang di tunggu Anto ama Heru dateng...

"Mana Bos, aku udah ditagih ama Heru nih. Ampir aja aku dipukulin..." Anto memelas sambil menadahkan tangan. Dalam sekejap, duit 700rebu beralih ke Anto. Terus dari Anto duit mengalir sebesar 675 ke Heru. Loh... jadi ruwet gini!

Nggak lama dateng Dico. Kita yang udah tau siapa Dico udah siap-siap ngumpetin duit... kecuali Heru!

"Ru, lo nggak ngumpetin duitnya? Entar di pinjem Dico loh!" Kata gw

"Iya, buruan umpetin..." Bagol nambahin.

"Buat apa... orang gw utang ke dia!" Kata Heru sambil nyetor duit 650rebu ke Dico.

Kita liat-liatan... jadi?

Hahahaha... kita semua ketawa lucu. Ternyata utang jadi berantai. Sementara gw sedikit menyesal. Karena gw, ada banyak orang nunggu rizkinya. Karena utang yang gw tunda-tunda nunggu orang yang beli, banyak orang yang salah paham ampe ampir berantem...m

"Oh, jadi gitu ceritanya..." Kita ketawa lagi, sekarang lebih gede dan lebih puas lagi. Mungkin karena sama-sama puas, dan sama-sama lega. Cuma pak Adi yang nggak ketawa keras. Dia cuma senyum kecil ngeliat tingkah kita yang seperti bocah...

"Tumben loh Co, bisa utangin orang... sampe banyak orang lagi!" Kata Bos Uwong. Kita ketawa lagi besar-besar... emang lucu! Dico kan biasanya ngutang! Bukan ngutangin... wuahhahahahah...

"Siapa bilang... gw juga ngutang." Kata Dico.

Hah! Ternyata cerita belum berakhir?

"Nah lo utang ama siapa?" Gw nanya.

"Ama Pak Adi!" Kata Dico sambil nyerahin duit 600rebu ke Pak Adi.

Hah! Kita saling liat-liatan terus ketawa lagi sampe puasss... PUAS!!!

(Udah puas? Tendang dong sponsornya DICO...)
»»  Lanjutannya nih...

Menculik Maysaroh 3

Jumat, 17 September 2010

Dico terlihat termenung di tempat Pak Adi. Di tangannya, tergenggam secarik kertas yang beberapa kali di baca lalu dilipat. Dibaca lagi, lalu dilipat lagi. Ada lebih dari 5 kali dia melakukan hal itu…


Ada apa sih Di?” Gw yang mulai merasa ada yang aneh.

“Nggak apa-apa.” Ujar Dico, tapi dengan wajah yang sayu.

“Nggak apa-apa tapi muka lo kusut gitu?”

“Kusut gimana?”

“Alah, nggak usak pura-pura deh. Emang lo pikir gw nggak bisa bedain antara muka lo yang lagi kusut beneran ama muka lo yang emang kusut? Itu kertas apaan?” Gw penasaran ama kertas yang dari tadi di bawa Dico.

“Bukan apa-apa.” Ujar Dico.

“Kalo bukan apa-apa gw boleh dong ngeliat?” Gw sedikit memaksa sambil menyodorkan tangan untuk ngambil ntu kertas…


Dico terlihat ragu. Dia lihat tampang gw yang keliatan serius. Akhirnya Dico pasrah. Dia kasih kertas yang ada ditangannya. Di dalamnya, adalah untaian kata-kata dengan tinta biru lengkap beserta cap jempolnya Dico. Tapi baru gw baca kepala suratnya yang bertuliskan “KEPADA YANG TERSAYANG, MAYSAROH” Dico langsung menutup tulisan di kertas itu dengan tangannya, sembari kasih peringatan…


“Tapi lo aje yang boleh tau! Jangan sampe yang laen tau lo!”

“Iye.” Gw ngasih jaminan ke Dico.


(Tapi gw terpaksa ngelanggar janji, karena gw kasih tau tulisan di kertas itu ke pembaca blog gw ini. Mohon pengertian nya abang-abang dan mpok-mpok; JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA YA? Kalo terlanjur cerita, bilang sama yang ente certain untuk nggak bilang siapa-siapa, OK?)

Suratnya berisi begini:


KEPADA YANG TERSAYANG, MAYSAROH


Maapin Abang, Roh…

Karena abang telah melakukan hal yang salah

Abang merindukan rembulan yang nggak bakal bisa dicapai,

Abang menanti embun padahal abang bangunnya siang

Cinta abang ke Saroh seperti bara yang gak pernah mati,

Tapi harusnya gak pernah jadi api,

Yang bakal ngebakar kita berdua!


Roh,

Abang udah banyak ngebo’ong ke Saroh

Abang bukanlah pangeran yang Saroh impikan

Untuk membangunkan dari tidur panjang

Bukan juga bodyguard yang bisa jaga Saroh

Dari gangguan preman pasar Rebo

Abang Cuma pecundang, yang bermimpi dapat bidadari

Dan penipu untuk cari kesenangan pribadi


Dan akhirnya abang sadar,

Kehidupan Saroh masih panjang

Sedang abang hanyalah penunggu kematian

Sambil bersibuk menyekolahkan anak-anak

Dan menyediakan uang belanja bini


Ya,

Benar! Abang sudah beristri

Sudah seharusnya ini kita akhiri

Maapin abang Roh…


Tertanda abangmu,




Dico Mardiko

Hmmm… gw menghela nafas panjang…


Nggak bisa berkata apa-apa, gw hanya menepuk pundak Dico sambil berucap;

“Kali ini lo ngambil langkah yang bener bro… akhirnya lo bisa sadar apa yang terbaik buat lo…”

Dico juga nggak berkata apa-apa Cuma mengiyakan sambil mengangguk-angguk sesungukan…


Hari berikutnya, gw udah stand by di tempat Pak Adi sambil nunggu Dico. Gw penasaran dengan hasil dari surat yang bakalan dikasih Dico ke Maysaroh. Gw piker, Dico sudah berbuat benar. Mudah-mudahan hasilnya baik, meskipun mungkin berat bagi mereka berdua.


Dico datang gak berapa lama setelah gw dudukin pantat gw di bangku panjang Pak Adi.


“Gimana?” Gw langsung nyosor.

“Gak tau! Tadi gw ngasih surat Do’I lagi sibuk mau berangkat ke pasar ama nyokapnya.”

“Oh, tapi surat udah lo kasi ‘kan?” Gw memastikan.

Kan tadi gw udah bilang! Udah Dape!” Dico kesel. “Tapi tadi gw liat mukanya merah, kaya abis nangis. Apa dia udah tau gw bakal mutusin dia ya?”

“Masa?”

“Iya. Eh iya, tadi dia ngasih surat!”


Dico merogoh tasnya dan mengambil sebuah surat yang tadi Maysaroh kasih.

“Coba baca Co?” Gw penasaran. Dico buru-buru buka suratnya Maysaroh yang ternyata hanya di tulis dalam selembar kertas kecil yang udah acak-acakan dengan tulisan sangat singkat;


“Bang, Aku HAMIL.”


GELEGARRR!


Seperti petir nyamber kita berdua. Gw, kaget karena ternyata hubung Dico dan Maysaroh udah sampe sejauh itu! Sedang Dico kaget karana banyak hal! Udah tentu, bisa di bayangin orang beristri dan beranak tiga menghamili anak gadis orang! Astagfirullah…


Gw hanya bisa geleng-geleng kepala sambil pusing, sementara Dico pusing beneran…

»»  Lanjutannya nih...

Napa Gak Pada Sholat?

Sabtu, 19 Juni 2010
ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR...

Suara adzan menggema di seluruh jagad, nggak ketinggalan menggema juga di tempat Pak Adi. Gw sahut adzan yang merdu itu. Yang menyentuh... menggetar di seluruh tubuh. Setelah selesai gema adzan, gw terkagum-kagum oleh cueknya Pak Adi, Anton, Dico, Oge, dan beberapa orang teman Pak Adi mendengar seruan itu. Mereka, pada sibuk pada aktifitasnya masing-masing. Termasuk ngobrol dan bercanda sesama mereka!

Tapi okelah kalo beg...itu! Kekaguman gw gak sampai disitu. Ketika gw beranjak untuk menuju masjid, mereka tetap cuek seperti bebek... koek... koek... Nggak ada yang bergeming dari posisinya masing-masing...

Sebenernya, memang udah lama gw tau mereka tidak ada yang menjalankan ibadah sholat dengan rutin. Tetapi baru sekarang gw nyadar betapa acuhnya mereka, ketika hari demi hari dan umur bertambah. Tua! Mereka lebih dari sekedar dewasa, tetapi mereka udah pada tua... Astagfirullah... napa gak pada sholat?

"Eh, ada yang mau ikut ke Masjid gak?" Gw coba mengajak mereka.
"Gw nitip aja dah Pe... salam ya?" Dico nyahut... Ampun! Sholat kok dijadiin candaan.
"Saya sih dirumah aja mas." Anton beralasan. Loh, rumah die kan jauh dari rumah Pak Adi. Maghrib gitu loh... mane keburu!
Gw lirik ke arah Oge, die hanya ngebales lirikan. Sementara Pak Adi cuek nerusin instalasi komputer.

Pagi ini, tumben-tumbenan Anton dateng ke rumah. Dia curhat tentang istrinya yang ambekan dan curigaan setiap dia kasih duit ke orang tuanya. Masalah sepele jadi urusan gede. Berantem hebat! Dalam kondisi pusing gw cuma bisa kasih saran;
"Makanya nTon, Sholat... napa gak pada sholat sih? Cuma agama yang bisa bawa ketentraman dalam rumah tangga..."
Anton cuma diam.

Siangnya, Dico juga curhat masalah Maysaroh. Dia bingung bagaimana cara mutusin, sedangkan di rumah istrinya sudah mulai menaruh curiga. Seperti juga kepada Anton, gw cuma bisa bilang;
"Makanya sholat, Co... napa gak pada sholat sih? Cuma sholat dan ibadah yang bisa menuntun elo untuk hidup..."
Dico juga cuma diam.

Sore di rumah Pak Adi ada berita mengejutkan, anaknya yang juga teknisi terkena penyakit tumor otak. Pak Adi, dengan bertetesan air mata bercerita bagaimana ia sayang sekali dengan anak kebanggaannya itu. Tak henti-henti, Pak Adi sesugukan bila membayangkan apa yang bisa terjadi dengan anaknya. Dan aku kembali bilang satu hal;
"Sholat Pak... sholat, Allah memiliki banyak cara sesuai kehendak-Nya. Bila Allah mengizinkan, apa yang tidak mungkin sangat mungkin terjadi. Berdoa, dan minta pertolonganlah kepada-Nya..."
Pak Adi juga diam.

Tiga hari gw anteng di rumah, udah beberapa hari ini gak jalan keluar. Gw mau main ke rumah Pak Adi. Di rumah Pak Adi, gw temuin ada Dico, Anton, Pak Adi dan beberapa teman Pak Adi.

ALLAHU AKBAR... ALLAHU AKBAR...

Adzan magrib bergema diseantero jagad. Siap-siap, gw berangkat ke masjid. Gak ada kata ajakan yang gw ucap. Cuma lirikan ke arah Dico, ke arah Anton, dan ke arah Pak Adi.

Dan semua cuma diam!

(Ajak Dico sholat dengan nyundul sponsornya Dico...)
»»  Lanjutannya nih...

Menculik Maysaroh 2

Sabtu, 05 Juni 2010
Dico uring-uringan di tempat pak Adi. Bukan karena gak punya duit. Yang ini jenis uring-uringannya agak lain (emang ada berapa jenis uring-uringan?). Dico kalo gak punya duit udah nggak mungkin beli rokok, paling-paling berenti (beli) rokok. Sebentar-bentar, lalu lalang kaya setrikaan. Karena pak Adi sibuk nyolder monitor, terpaksa gw yang tegor Dico...

"Knape lo Co?"
"BeTe gw..."
"Bete knape?" Ntu yang gw bingung, Dico kan udah pengalaman dalam hal perBeTe-an. Trus knape sekarang gw harus bingung ama BeTe-nya Dico... pasti karena Bete-nya ini beda!

"Si Oge kemana sih?" Dico nanya, gak tau ama siapa.
"Paling-paling ke lapak Bos Tora yang di Kodau." Gw langsung ambil jawabannya, PERTAMAXX bro ...
"Tu, anak kesitu mulu ngapain sih?" Nah lo, nih dia kayaknya yang buat Dico BeTe! Dia cemburu rupanya...
"Lo, cemburu ya?"
"Kagak!" Dico nyerengut.
"Alah, lo cemburu. Dari tampang lo ketauan!"
"Kagak!"
"Ngapain sih lo, dah punya bini masih nguber anak gadis orang? Pake cemburu segala..."
"Kagak Pe... kagak. Gw kagak cemburu!"
"Tapi lo BeTe"
"Emang!"
"Lo cemburu 'kan ama hubungan Oge ama Maysaroh?"
"Kagak! Dibilang kagak!" Dico mulai kesel.

Nggak berapa lama, lewat Oge yang boncengan ama Maysaroh. Jalannya juga ngebut. Ke kita-kita, Oge ama Maysaroh hanya teriak meyapa "hai...", sambil tangannya melambai ke arah kita.
Dico, hanya bengong melihat Maysaroh!

"Sialan tuh Oge! Pantesan, setiap gw ke lapak Bos Tora gak pernah ada Maysaroh! Rupenye di ajak jalan mulu ama Oge!" Dico ngedumel.
"Nah, kan? Lo cemburu?" Gw ngeledek Dico.
"Kagak!" Dico kembali ngebantah.

Udah tiga hari sejak Dico BeTe ngeliat Maysaroh boncengan ama Oge, Dico nggak pernah keliatan batang hidungnya yang emang pesek. Sekarang malah Oge yang nongol. Seperti Dico, Oge muncul nyetor tampang BeTe!

"Sialan si Dico, tuh bocah kerjaannya gangguin orang mulu!" Oge ngedumel.
"Loh, gangguin knape?" Gw pura-pura nggak ngerti.
"Iye, gak boleh orang deket ama Maysaroh. Nih dah tiga hari die nyulik Maysaroh!"
"Lah, kok jadi rebutan Maysaroh sih? Sadar woy! Elo-elo tuh dah pada punya bini! Mau punya dua? Emang kecandak ama kehidupan elo pada biayain bini dua?"
"Yah, emang gw pengen jadiin bini?" Oge ngebantah.
"Nah entu lo ama Dico nguber-nguber?"
"Lah kagak... cuma resep aje beduaan ama Maysaroh ketimbang urusin komputer mulu... mumet!"

Tiba-tiba Dico dateng boncengan ama Maysaroh. Nggak seperti waktu ama Oge, Maysaroh hanya melambai. Tapi ini mampir! Mampir brow... kebayang gak tampang Oge yang memerah!

"Kenalin nih... cewe gw, Maysaroh..." Dico dengan bangganya memperkenalkan Maysaroh kayak MC lagi manggil bintang tamu.
"Cewe lo? Bener Roh?" Oge seakan gak percaya.
"Iya bang..." Jawab Maysaroh.
"Yah, jangan mau Roh... die kan udah punya..."
"Justru itu..." Dico langsung nyamber. "Maysaroh udah gw kasih tau kok kalo gw udah punya rumah... die juga udah tau kalo gw sebenernya punya mobil!" Dico belagak.

Punya rumah? Mobil? Dari mana ceritanya? Wah... wah... ngibulnye keterlaluan nih Dico. Gw, pak Adi dan Oge sampe bengong abis!

"Iya bang... nggak kaya bang Oge, kalo ngajak jalan nggak pernah jajan! Cape doang. Kalo bang Dico ngajak jalan, Maysaroh tinggal milih mau makan apa, minum apa... abis itu nonton. Pokoknya puas deh..."

Tambah parah nih Dico. Semua tau kalo Dico nggak punya uang. Kalo begitu, gimana dia bisa nraktir Maysaroh... ada yang nggak beres nih...
Dico, dengan lagak sok kayanya bertolak pinggang dan menggoyang-goyangkan kaki!

"Pak Adi..." Dico sok cool. "Gimana proyek kita?"
"Proyek apaan?" Pak Adi yang lagi asyik nyolder monitor kebingungan.
"Itu... proyek peremajaan komputer di Rumah Sakit Budi Budan. Dan yang satu lagi, proyek Bank Arthagranit? Udah di polow ap?"

Pak Adi tambah bengong...

"Ya udah. Nggak apa kalo belom, toh banyak proyek lain yang bisa kita kerjakan..."

Oge, gw, pak Adi tambah bengong...

"Eh, kok pada bengong? Dari pada bengong tolong buatin kopi untuk gw Pe!"

Hah! Gw terperangah. Marah, kesel dan ada sedikit gelinya juga ngeliat tingkah Dico. Masa gw diperlakukan seperti jongos nya Dico. Dico langsung ngedipin mata ngasih tanda ke gw untuk kerjain aja apa yang dia suruh untuk dukung gayanya dia.

Terpaksa gw lakukan yang Dico suruh walau dengan berat hati!

"Eh, jangan lupa... buatin Maysaroh teh manis!"

Dico tambah keterlaluan!!! Tapi sekali ini gw maafin, gak ada salahnya bantu temen menikmati tingkah sok kaya! Sambil jalan ke dapur, gw masih denger suara Dico ngomong ke Maysaroh...

"Payah tuh anak buah... disuruh aje pake bengong dulu, yah begitu deh?"

Sungguh terlalu! (kata Bang Rhoma)... Rasanya gw pengen bejek-bejek tuh bocah...

(Pengen ikut bejek-bejek Dico? Liat sponsornya Dico aje dulu...)
»»  Lanjutannya nih...