"Pa... bangun pa." Istrinya membangunkannya dengan lembut. Diusapnya kepala Dico.
"Pa... bangun... udah siang."
Dico kembali menggeliat.
"Ahh!!" Dico menepis tangan bininya yang masih berada di atas dahinya.
Istrinya cuma tersenyum. Lalu beranjak keluar tempat tidur.
Dico tersentak! Dico terkejut sekali pagi ini. Dico marah, di kejar istrinya yang ternyata sedang menuju ruangan makan.
"Ma!!!" Dico memanggil bininya dengan suara keras, "Mana tendangannya? Mana guyuran airnya? Kok mama begitu sih?" Dico kesal bin bingung. Selama ini ternyata Dico biasa dibangunkan istrinya dengan hardikan, tendangan bila tidak juga bangun, bahkan diguyur! Dan hari ini, Dico mendapat perlakuan yang berbeda! Tentu saja Dico bingung!
Istri Dico menghampirinya. Dico sudah siap-siap dengan jurus seribu Kelabang untuk menangkis segala serangan bininya. Memang udah tabiat yang Dico hapal, bila ia menghardik bininya maka ia akan mendapat balasan yang setimpal. Jeweran atau lemparan sendal! Dan Dico sudah hapal pula bagaimana seharusnya ia mengelak. Menangkis atau lari tunggang langgang!
"Pa, mama udah siapin nasi goreng kesukaan papa. Makan dulu ya?" Istrinya Dico menggandengan tangan Dico sambil menunjuk makanan yang sudah siap di meja. Wah... wah, Dico tambah bengong terhadap sikap aneh bin ajaib bininya pagi ini! Biasanya, pagi-pagi Dico minta kopi aja udah di lempar toples kosong sambil nyerocos, "Makan nih toples! Duit dari mana? Nggak gablek ngasih duit aja mau minta macem-macem!
Dico makan sambil bengong. Sesekali dia liat ke arah bininya. Bininya tersenyum, persis seperti senyuman Sule.
Dia liat lagi...
Istrinya senyum lagi...
Liat lagi...
Senyum lagi...
Liat lagi...
Senyum lagi...
Ada sekitar 136 kali Dico dan bininya liat-liatan dan senyum-senyuman. Manusia Aneh!
Sampai lewat anaknya, Dico dan bininya berenti sejenak untuk denger siaran iklan.
"Pa, kok di tas papa ada jas? Papa mau kawin lagi ya?"
Glek, Dico tersedak. Hampir-hampir, sendok yang lagi dimasukin ke mulutnya itu ketelen! Bininya juga bengong, melotot ke arah Dico seperti minta penjelasan.
Dico tentu aja langsung ngeles!
"Oh, itu punya Anton... minta tolong masukin ke londri untuk di cuci. Kemaren kan dia abis kondangan adeknya!" Dico menyiapkan jurus kalo aja bininya gak percaya. Dia liat ke arah bininya.
Bininya senyum lagi. "Oh, gitu ya pa? Biarin nanti mama yang bawa ke laundry."
Dico lega sambil mengusap keringat dingin di dahinya. Sementara bininya menghampiri anaknya lalu memukul, nendang, tempeleng kanan kiri, lipat, terus digelindingin... "dasar anak sialan! Ngomong sembarangan aja luh!"
Diam-diam, Dico sendiri tersentak hatinya. Bila anaknya ngomong aja bininya udah marah, gimana kalo tau beneran? Disisi lain, Dico juga merasa bersalah. Apalagi dengan perlakuan aneh bininya pagi ini. Dico benar-benar merasa bersalah kepada anak dan istrinya.
Sehabis puas dengan anaknya, istri Dico kembali ke meja makan.
Dico meliat kearah istrinya. Istrinya tersenyum...
Liat lagi...
Senyum lagi ...
Liat lagi...
Senyum lagi...
Kali ini ada sekitar 1258 kali mereka melakukan itu!
***
Dico siap berangkat dengan motor bututnya. Perlakuan aneh bini berlanjut dengan mempersiapkan peralatan service Dico ke dalam tas dan memakaikan tas ke tangan Dico yang udah siap di atas motor! Dico masih bengong dibuatnya.
Dico ingat masa-masa awal pernikahan mereka. Bininya sibuk menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan tas kerja lalu memberikan kecupan hangat di pipi sambil berucap "hati-hati ya pa?". Dico mulai merasakan kesedihan dan kepedihan. Dico, merasa menyesal sekali telah berkhianat pada bininya yang setia selama puluhan tahun mendampinginya. Sekalipun kasar, istrinya ternyata tetap ada di sampingnya sekalipun ia hanya menyetor duit pas-pasan dan kurang-kurangan! Hingga kini, hingga 5 buntut telah dihasilkan ia dan istrinya.
"Papa berangkat dulu ya ma?" Dico menatap istrinya tajam. Cukup lama Dico menatap istrinya dan istrinya menatap dia. Bila dalam sinetron, maka ada jeda saat Dico di close up, lalu kamera mengarah ke istrinya. Dico berdoa dalam hatinya, "Tuhan... jangan biarkan ia mencium pipiku, please..."
Lalu istrinya mendekat, mencium pipi Dico sambil berucap, "hati-hati ya pa?"
Dico berangkat di iringi tatapan istrinya yang terus menatap hingga kepergian suaminya tanpa tahu; Dico telah berangkat dengan air mata yang berurai deras dipipinya!
Istrinya memang tidak akan pernah tahu...
(Mau tahu? Tendang dong sponsornya Dico...)





